|
SUMBARTERKINI, Padang -- Saat ini ada kesalahan pemahaman dalam pembangunan pendidikan Sumbar yang membuat skala prioritas bertumpu pada point 3 Pemahaman Sukses Pendidikan yaitu Berilmu Mutakhir dan Berpestasi. Pada hal keberhasilan dan kehebatan tokoh-tokoh Sumatera Barat masa lalu lebih dilihat dari karakater watak yang ditampilan dan ini lebih terfokus dengan rasa ketaqwaan dan keperibadiannya yang matang. Kita cukup kawatir jika ini tidak segera dibenahi akan membuat orang Sumatera Barat yang dikenal dengan adat istiadat Minangnya akan hilang ditelan zaman, dan kita tidak ingin itu terjadi karena ini merupakan salah satu kekuatan bangsa yang besar ini, Indonesia Raya !
Ini disampaikan Prof. DR. H. Arief Rachman, MPd saat menjadikan makalah dalam Seminar Pendidikan sebagai Unggulan dalam rangka Pembangunan Sumatera Barat di Ruang Anggun Nan Tongga Kantor Bank Indonesia Padang ( 25/9 ). Hadir dalam kesempatan itu Wakil Gubernur Marlis Rahman, Dirjen Dikti Prof. DR. Fasli Jalal, Rektor UNP, Rektor IAIN, Rektor Unand, Kepala BI Padang DR Romeo Rissal Panjialam, Pengamat Pembangunan Sumbar Basril Djabar, Kepala Bank Nagari beberapa pakar ekonomi Sumbar, Kepala Dinas Pendidikan se Sumbar serta beberapa pengusaha Sumbar.
Lebih Lanjut Arief Rahman menyebutkan, sesungguhnya kekuatan pendidikan Sumbar terkenal dengan kepribadian yang patut di contoh teladani oleh siapa saja. Oleh karena budaya adat istiadat perlu terus dikembangkan dengan baik dan benar sebagai karakter Minang yang seharus tidak hilang oleh berbagai hal bentuk kurikulum yang berkembang.
Kita semua seakan-akan telah berbuat abai terhadap orang-orang yang memiliki karakter yang peduli terhadap lingkungan dan kondisi bangsa. Kita lebih banyak memilih orang-orang yang berotak bukan berwatak. Untuk dapat kita ketahui hari ini orang-orang berotak lebih banyak memikirkan keuntungan dan diri mereka sendiri yang kadang kala mereka berpikir mengabaikan kondisi orang lain.
Lihat pembangunan sekolah saat ini yang berbasis internasional yang berpikir jitu otak, bagaimana dengan pendidikan yang jitu watak. Sesungguhnya kita, bangsa ini tidak mengabaikan orang-orang otak cermelang akan tetapi seharusnya kita lebih terfokus pada orang-orang yang berwatak, karena mereka-merekalah nantinya bangsa ini akan menjadi besar dan menjadi lebih bermartabat serta memiliki jatidiri yang kuat, ungkapnya.
Arief mencontohkan dalam pendidikan dalam implementasi kehidupan , jujur atau lulus ?. Kaya atau bermartabat ?. Jika kaya dan lulus yang menjadi prioritas, kita akan berbuat apa saja untuk mendapatkannya sesuai dengan perintah Akal. Menurut Perasaan , senang menjadi orang kaya atau mendapat kelulusan . Akan tetapi bagaimana dengan Hati Nurani / Kalbu , apa cara itu baik atau benar.. ? pasti Kalbu akan menjawab ini salah dan ini tidak benar !
Pemikiran logika akal dan perasaan telah mengalahkan sesuatu yang benar dan membenarkan yang salah.. ! Mau jadi apa generasi Sumbar untuk 10 tahun mendatang ?, kecamnya.
Wakil Gubernur Marlis Rahman dalam kesempatan tersebut menyampaikan, Sumatera Barat pernah dikenal sebagai salah satu daerah tujuan pendidikan di Indonesia bahkan di Asia Tenggara zaman dahulu, karena daerah ini mampu melahirkan cendikiawan dan tokoh sekelas Buya Hamka, H. Agus Salim, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Tan Malaka yang telah memberikan kotribusi besar pembangunan bidang politik dan sosial kultural dalam kehidupan berbangsa di Indoesia.
Demikian pula dengan semangat entrepreneurship yang menjadi lokomutif kehidupan perekonomian bangsa. Semangat ini terasa demikian lekad dengan kultur masyarakat Sumbar yang telah melahirkan stigma bahwa masyarakat Minang etnis yang unggul dalam berdagang.
Marlis Rahman juga menyampaikan banyak hal yang harus dilakukan untuk menjadikan bidang pendidikan sebagai unggulan bagi Provinsi Sumatera Barat dalam rangka membangun knowledge Based Economic. Pembanguan bidang pendidikan tidak dapat terlepaskan dari kerangka reformasi dan terobosan kebijakan pembangunan pendidikan di tingkat nasional.
Dengan latarbelakang kondisi kebijakan pembangunan bidang pendidikan yang belum sepenuhnya memiliki korelasi simbiosis mutualisme dengan kebijakan pembangunan perekonomian di Sumbar, maka pemprov telah merumuskan visi Pembangunan Pendidikan Sumbar Tahun 2006-2010 yaitu : Mewujudkan Insan Sumbar yang cerdas dan kompetitif, sebagai wujud implementasi dari agenda Membangun Sumber daya Manusia Berkualitas di Sumbar.
Besarnya harapan masyarakat terhadap pembangunan bidang pendidikan, tentu belum dapat terpuaskan dengan meningkatnya capaian indikator-indikator makro pembangunan pendidikan. Pemprov memahami bahwa pembangunan bidang pendidikan juga sangat diharapkan mampu menjawab tantangan dan peluang kerja bagi seluruh angkatan kerja di daerah ini. Untuk butuh berbagai terobosan program pendidikan dimasa depan yang mampu mengembangkan kembali jati diri Sumatera Barat.
Pembangunan bidang pendidikan merupakan pembangunan yang berkelanjutan yang membutuhkan waktu yang tidak singkat serta menuntut konsistensi terhadap kebijakan dan program dalam kurun waktu sebelumnya. Semua pihak diharapkan berkontribusi melakukan evalusi kinerja pembangunan bidang pendidikan di Sumbar selama ini. Dan setiap masyarakat juga memberikan kontribusi solusi untuk mempertajam pencapaian program pembangunan bidang pendidikan tersebut, ujarnya. ( HS)
|