SUMBARTERKINI.COM, KOTA SOLOK— Festival budaya dan ekonomi rakyat Rang Solok Baralek Gadang (RSBG) 2025 sukses digelar selama tiga hari berturut-turut di Hamparan Sawah Solok dan Taman Syekh Kukut, Kota Solok. Acara yang dimulai pada Kamis, 11 September, dan berakhir pada Sabtu, 13 September, ini menjadi ajang utama pelestarian budaya Minangkabau sekaligus penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Pembukaan festival dilakukan secara resmi oleh Gubernur Sumatera Barat, Buya Mahyeldi, bersama Wali Kota Solok dan jajaran Forkopimda. Dalam sambutannya, Gubernur mengapresiasi rangkaian acara yang menggabungkan seni, tradisi, dan peluang ekonomi, serta mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan budaya leluhur.

Selama tiga hari, berbagai kegiatan budaya dan hiburan digelar secara bergantian. Mulai dari pawai budaya yang melibatkan pelajar, sanggar seni, dan komunitas adat, hingga tari kolosal dan tari massal yang diadakan di tengah hamparan sawah, menjadi daya tarik utama festival. Pertunjukan seni bela diri tradisional Minangkabau, festival silek tuo, menambah warna acara dan menarik perhatian pengunjung.
Kegiatan lomba pakaian adat Solok, permainan anak nagari, serta bazar kuliner dan kerajinan tangan khas daerah dihadirkan sebagai wujud keberagaman budaya sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku UMKM yang mencapai sekitar 400 peserta. Kuliner tradisional Minangkabau menjadi favorit pengunjung, sementara pertunjukan musik tradisional dan modern menemani suasana malam.
Puncak festival diisi dengan prosesi adat “Bakaua Turun Ka Sawah” pada hari terakhir, yang melambangkan hubungan harmonis masyarakat dengan alam dan menjadi simbol penting pelestarian lingkungan hidup di Kota Solok.
Selama pelaksanaan, festival ini berhasil menarik sekitar 95.000 pengunjung dari berbagai daerah. Pemerintah Kota Solok mencatat potensi transaksi ekonomi mencapai Rp6,7 miliar, yang sebagian besar berasal dari penjualan produk UMKM dan kuliner khas daerah.
Warga Kota Solok dengan antusias berpartisipasi aktif, baik sebagai pelaku seni, peserta pawai, maupun penyelenggara bazar. Hal ini menunjukkan bahwa Rang Solok Baralek Gadang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wadah penguatan jati diri dan solidaritas masyarakat.
Penutupan acara pada 13 September 2025 berlangsung meriah dengan harapan festival ini dapat terus berkembang dan menjadi ikon budaya sekaligus pendorong ekonomi kreatif di Sumatera Barat.











