SUMBARTERKINI, Agam — Jumlah korban meninggal dunia akibat banjir bandang (galodo) di Nagari Malalak Timur, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kembali bertambah. Kepala BPBD Agam, Rahmad Lasmono, menyampaikan bahwa hingga Kamis malam (27/11/2025), total korban tewas mencapai delapan orang, sementara tujuh warga lainnya masih dilaporkan hilang.
Menurut Rahmad, proses pencarian terkendala kondisi lapangan yang ekstrem. Tiga titik lokasi galodo belum bisa dijangkau tim karena akses menuju kawasan tersebut tertutup material longsor dan banjir. “Lokasinya terisolasi dari berbagai arah, tidak ada sinyal komunikasi, dan listrik padam. Di titik-titik yang belum bisa dijangkau itu informasinya terdapat sekitar 50 orang. Jumlahnya bisa saja bertambah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seluruh alat berat milik pemerintah daerah saat ini sedang digunakan di beberapa lokasi bencana lainnya. Untuk membuka akses menuju titik terisolasi, BPBD akhirnya menyewa alat berat tambahan. “Alat berat segera didatangkan untuk membuka jalur dan mempercepat proses evakuasi,” kata Rahmad.
Sementara itu, identitas delapan korban meninggal belum dapat dipublikasikan karena masih dalam proses identifikasi oleh petugas. Untuk warga yang berhasil dievakuasi, pos pengungsian telah didirikan dan dapur umum mulai beroperasi untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas.
Hingga saat ini, tim gabungan BPBD, TNI-Polri, relawan, dan unsur pemerintah daerah terus melakukan pencarian dan evakuasi dengan kondisi medan yang masih sangat sulit. Pemerintah daerah mengimbau warga tetap waspada dan mengikuti arahan petugas mengingat cuaca di wilayah tersebut masih berpotensi memicu bencana susulan.












