JAKARTA — Pemuda Indonesia Center (PIC) mengecam keras dinamika aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI yang digalang oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).
PIC menilai aksi unjuk rasa tersebut mencederai komitmen moral setelah pimpinan AMPB, yang dikenal dengan sapaan “Botok”, diduga meninggalkan ribuan massa di jalanan begitu agenda audiensi di dalam gedung legislatif selesai.

Tindakan Pemuda Indonesia Center kecam aksi AMPB ini disampaikan langsung sebagai bentuk pengawalan terhadap integritas dan tanggung jawab moral gerakan penyampaian aspirasi publik.
“Yang kami persoalkan adalah ketika ribuan rakyat diajak bergerak atas nama perjuangan, tetapi setelah pintu audiensi terbuka, rakyat justru dibiarkan berhadapan dengan ketegangan di jalan,” tegas Ketua Umum Pemuda Indonesia Center, Ahmad Rivaldi.
Tiga Poin Pernyataan Sikap PIC
Melalui siaran resminya, Pemuda Indonesia Center mengeluarkan tiga pilar penegasan sikap terhadap dinamika unjuk rasa tersebut:
Massa Bukan Alat Tukar: Mengecam segala bentuk praktik yang memanfaatkan keresahan publik sebagai modal pencitraan atau akses penawaran (bargaining) kepentingan pribadi/kelompok.
Tolak Pimpinan Aksi Cuci Tangan: Pimpinan dan koordinator unjuk rasa wajib mendampingi massa hingga tuntas serta bertanggung jawab atas ketertiban dan keselamatan warga di lapangan.
Stop Berlindung di Balik Nama Rakyat: Gerakan masyarakat tidak boleh dijadikan kendaraan politik terselubung yang merugikan kepentingan publik secara luas.
PIC turut mengimbau masyarakat agar lebih kritis dan tak mudah memercayakan suara kepada figur yang mengatasnamakan rakyat, tetapi enggan memikul risiko perjuangan bersama di lapangan.










